Rabu, 17 Oktober 2012

MOL KEONG EMAS

Salam Tani !! Siapa yang tidak kenal dengan keong mas ? hewan golongan moluska ini memang bertubuh lunak dan jalannya sangat pelan, akan tetapi bisa sangat merugikan petani. Karena keong mas sangat menggemari bibit padi yang masih ranum. Oleh karena itu Mr. Gembelehe akan sedikit membahas cara mengolah keong mas sebagai hama ini agar bisa  menjadi pupuk organik dan pupuk hayati.

mol-keong-mas

Kenapa  saya  tertarik dengan keong mas? kita ketahui kalau keongmas hobi mengkonsumsi tanaman padi muda yang notabene banyak mengandung auksin. Oleh karena itu jika dibuat MOL  juga akan mengandung auksin. Selain itu jika kita gunakan keong mas sebagai MOL atau keperluan yang lain (makanan bebek) pasti sekaligus juga akan mengendalikan hama keong mas tersebut.

Bahan MOL keong mas :
  1. 1 kg keong mas yang masih hidup/ segar
  2. 1/2 buah maja, jika tidak ada bisa gunakan gula merah 2 ons.
  3. 2 liter air kelapa

Cara Membuat MOL keong Mas :
  1. Keongmas ditumbuk hingga halus lalu masukkan dalam jeligen
  2. Masukkan buah maja/ gula jawa yang telah dihaluskan
  3. Masukkan 2 liter air kelapa.
  4. Kocok-kocok hingga campur
  5. Buka sebentar setiap pagi tutup jeligennya
  6. Setelah 15 hari siap digunakan

Cara menggunakan MOL keong mas :
  1. Untuk pengomposan, campurkan 1 bgian MOL keong mas dengan 5 liter air tawar dan tambahkan 1 ons gula merah. Siramkan pada bahan organik yang akan dibuat kompos.
  2. Campurkan 1 liter MOL keong mas dalam 1 tangki semprot. Semprotkan pada seluruh bagian tanaman dan anah disekitar perakaran tanaman. Jangan lupa nyemprotnya pagi atau sore hari.
  3. Untuk semakin menyuburkan tanman, MOL keong mas juga boleh dicampur dengan MOL rebung bambu yang maspary tulis kemarin atau MOL-MOL yang lain.

Manfaat dan kandungan MOL keong mas :
  1. MOL keong mas jika diaplikasi pada tanaman hortikultura (kacang panjang, tomat, cabe dll) akan melebatkan dan memperbesar buahnya.
  2. Menurut informasi yang  peroleh, diduga kandungan MOL keong mas adalah protein, azotobacter, azospirillium, mikroba pelarut phospat, staphylococcus, pseudomonas, auksin dan enzim.


Semoga petani Indonesia lebih bijaksana dalam memanfaatkan alam sekitar untuk meningkatkan budidayanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar